Saturday, July 27, 2019

BERBAGI ADALAH KEBAHAGIAAN UNTUK SEMUA

Senin, 17 Februari 2014
Bismillah,
Kebahagiaan itu adalah buah dari kerja keras. Tidak ada keberhasilan yang berbuah kebahagiaan tanpa kerja keras. Kebahagiaan akan teruji jika, salah satu diantaranya, kita berusaha berbagi dan memberi yang terbaik untuk saudara kita. Manusia memang tak pernah puas dalam banyak hal. Tidak jarang jika ia memiliki kelebihan, ia kesulitan membaginya pada yang lain.
Amal yang diiringi iman tidak akan pernah berbuah kegundahan dan kesulitan, bahkan menjadi aset kebahagiaan yang tak terkira, yang diperoleh dengan banyak mengecapnya manisnya sabar. Marilah memberi dan berbagi dengan belajar dari kehidupan ini.

Setiap kali digaungkan tentang keindahan persaudaraan, setiap itu pula membuat yang lain penasaran dan ingin menilik lebih jauh. Karena agama ini punya konsep berbagi dengan saudaranya sesama muslim. Tentang ini, torehan sejarah terlalu banyak untuk dikenang dan di ulas. Sejarah telah menuturkan dirinya, namun sudahkah keindahan sejarah kita bertutur lewat tingkah laku kita?
Di belahan dunia sana, banyak saudara saudari kita yang tak tenang hidupnya, perang mencabik-cabik mereka, raga mereka terancam. Di sudut sana, orang bergelimang harta namun hatinya begitu miskin. Mereka tak kunjung mengecap kebahagiaan.
Lalu dimanakah letak kebahagiaan itu? Kebahagiaan sejati terletak di relung hati. Bahagia itu disini. Salah satu sumber kebahagiaan itu adalah saat kita mampu berbagi. Berbagi apa saja. Idealnya kita memberi saudara kita seperti yang kita punya. Tapi, jika tidak maka membagi ungkapan suka pun bagian dari memberi, bukankah Rabb kita berkata wa amma bini’matika fa haddist.
Jika kita tak punya yang lain untuk diberikan maka berikan doamu. Doakan ia agar keteguhan selalu menyertainya, agar ia selalu taat di jalan agamanya. Meski ia tak berharta, namun keteguhan adalah modal utama dalam menghadapi hidup ini. Maka, berbagilah agar kau bahagia.

Sunday, April 21, 2019

True Love


Bismillah,
Ahad, 21 April 2019

Assalamu'alaikum
        Di malam senin ini aku sengaja menyempatkan kembali menulis di tengah kesibukan PBL karena lokasi PBL mengingatkan peristiwa lampau yang kurasa dapat menjadi bahan untuk mawas diri, tidak terasa ya sebentar lagi kita akan menyambut bulan suci ramadhan. Target apa yang akan kamu capai di bulan ramadhan tahun ini? Wah, hamasah! Semoga Allah selalu menjaga kesehatan kita ya agar dapat menjalankan ibadah dengan baik. Aamiin.

         Kepo nih, puasa nanti kalian sedang LDR dengan orang tua kah? Semangat ya untuk anak rantau yang tengah berjuang di kota orang. Semoga lelahmu lillah dan berkah. Untuk kamu yang bersama keluarga jangan sia-siakan waktu kebersamaan itu ya, karena jika waktu telah menelan apa yang dilaluinya maka tidak ada yang dapat mengembalikan kebersamaan, yang ada hanya penyesalan dan kerinduan akan kenangan bersama mereka.

         Oke, lanjut ke cerita ya. Sekitar 2 tahun yang lalu, aku masih semester 2 dan sibuk dengan tugas epidemiologi. Saat itu aku dan salah satu teman kelompokku ke puskesmas untuk bimbingan dengan dokter. Keadaan di puskesmas penuh sesak dengan pasien, belum sampai di dalam aku melihat seorang laki-laki yang telah renta bertubuh berisi dan tinggi berjalan tertatih-tatih, tangannya gemetar memegang dinding dan orang yang di sekitar bahkan didekatnya hanya memandangi. Dari jauh aku tentu sudah sangat iba melihatnya :(

             Orang dilaluinya tapi sorot mata kakek itu tajam ke arahku dan berjalan mendekati, aku pun memperhatikan dan mendekatinya. Terdengar lirih suara dari kakek itu saat berpapasan denganku. Rupanya beliau mencari toilet. Aku terus bergumam dalam hati, begitu tega meninggalkan orang tua yang usianya sudah senja sendirian dengan kondisi yang kurang sehat. Aku sempat bertanya-tanya dalam hati, kemana kah keluarganya? begitu tega anak/keluarganya. Pikirku saat itu. Aku menoleh ke temanku yang berada di belakang dan dia paham maksudku. Alhamdulillah temanku tau letak toilet. Sebab aku baru kali pertama ke puskesmas ini. 

             Kakek ini sudah sulit berjalan, aku pun menggandengnya karena memang tak ada tumpuan untuk dipegang. temanku mengikuti di sebalahku. Ketika berjalan tubuhku sempat tidak seimbang karena tanganku menopang tubuh kakek tersebut yang lumayan berisi. Iya, aku hampir terjatuh. Disini aku mengartikan bahwa kakek itu sudah sulit berjalan. Aku mulai suudzon lagi, kenapa keluarganya tidak memberikan tongkat untuk kakek ini? tega banget! Apa kakek ini sebatang kara? Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Saat itulah orang-orang memperhatikan aku dan temanku sambil bertanya pada kakek ini. Sedih memang ya, kepedulian kita dengan orang sekitar mulai terkikis :(

           Sampai di toilet, aku sempat khawatir kakek itu kenapa-kenapa. Tapi insyaAllah engga. Ketika kakek itu masuk, aku langsung mengeluarkan isi hati pada temanku yang ada di sebelahku. 
"KASIAN, SUMPAH! Jadi inget orang tua di rumah." Ucapku saat itu tiba-tiba seperti ada bawang bikin mata berkaca-kaca;(
"Iya gak tega, jadi inget kakek aku." Balas temanku.
"KELUARGANYA KEMANA YA?"
"IYA IH KOK TEGA YA?"

               Tak lama kakek itu keluar dengan ekspresi senang. Dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Aku jadi terharu. Kakek itu memegang lenganku dan aku pun menuntunnya menuju ruang tunggu. Di sepanjang jalan kakek itu sudah mengajak berbincang, karena rasa penasaran aku langsung bertanya.
"Kakek ke sini sendiri?" Tanyaku.
"Tadi ke sini sama anak, tapi anak bapak pergi lagi."

                Astagfirullah, dari kata tersebut aku merasa kesal, tapi kakek itu menyambungkan perkataannya kembali.
"Tadinya mau nungguin tapi bapak tau anak bapak jam 09.00 ada rapat. Jadi bapak menyuruh pergi, takut telat rapatnya. Biarin bapak di sini sendiri daripada anak bapak telat."

           MasyaAllah dari perkataan inilah hati sangat tersentuh, terenyuh mendengarnya. Kasih sayang orang tua memang tanpa batas. Selalu memikirkan anaknya walau kondisinya yang seharusnya perlu diperhatikan oleh anaknya. Sering kali kita sebagai anak selalu mementingkan diri sendiri, sering kita tidak ingin merelakan sesuatu demi orang tua. Aku saat itu benar-benar tertampar, dengan perkataan tadi. Aku mengartikan bahwa mungkin aku pun telah melakukan hal seperti ini, bahkan lebih dari ini  karena anak rantau pasti di saat orang tua sakit, aku tak ada di samping untuk merawat. Mungkin di balik kabar yang kudapat baik-baik saja, justru ada sesuatu yang disembunyikan oleh orang tua demi anaknya karena mereka tidak ingin membuat anaknya khawatir ;(

           Kamu tau ada hal yang diucapkan lagi oleh kakek itu. "Kalo istri bapak lagi jagain cucu."
YAA ALLAH, benar kasih sayang kedua orang tua tak terbatas. Lantas kapan kita bisa membahagiakan beliau tanpa membebani lagi seperti kita masih kecil?

           Dari kisah yang aku sampaikan tak ada maksud apa-apa, hanya saja dari kisah ini semoga kita dapat mengerti arti kasih sayang orang tua yang amat dalam. Tentunya kita dapat lebih sayang dan menghormati mereka yang telah menjadikan kita seperti sekarang. MasyaAllah.

                Jangan sampai ketika kita amat memperhatikan orang lain dan berusaha ingin menjadi orang bermanfaat untuk orang lain hingga lupa tujuan awal untuk membahagiakan orang tua. Jangan lupa sempatkan pulang, karena kebahagiaan mereka bukan seberapa besar kamu memberikan materi, tetapi seberapa besar kita menyayangi dan memberi perhatian langsung pada beliau. Melihat anaknya datang ke rumah adalah suatu kebahagiaannya walau sering kali ulah kita membuat mereka kesal. Sempatkanlah pulang, mereka sangat merindukan.

Sunday, March 17, 2019

Sahabat Syurga



Ahad, 17 Maret 2019
dari atap Kota Bandung

Assalamu'alaikum...

Bismillah,
Kata demi kata kembali berbaris menjadi sebuah makna, alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk bercerita. Ini memang bukan kisah yang menarik, tapi aku harap kita dapat saling belajar dan memperbaiki hati. 

Awan tidak selamanya seputih kasa, awan mendung acapkali menyapa. Perihal ini persis dengan kehidupan, melirik masa lampauku ternyata pernah dirundung awan gelap. Begitu terlihat mendung, mengapa? karena memang saat itu intensitas iman dalam hati sangat kurang, sehingga aku tersihir dengan gemerlap dunia di atas waktu yang amat singkat. Tak ingin aku terus terkurung dalam jeruji delusi karena aku tidak dapat melihat sesuatu yang indah, walau ciptaan-Nya amat megah. Benar, kegelapan membuat hatiku buta hingga aku tak pernah mensyukuri anugerah-Nya. 

Alhamdulillah, hatiku tergerak untuk menemui ketenangan. Allah terus menunjukkan letak kebenaran dalam ketidaktahuanku. Ketahuilah, seberkas sinar tak akan pernah masuk ke dalam rumah jika pintu tak pernah kita buka, begitu pun hidayah. Kita akan terus terperangkap dalam ruang kelam tanpa pernah mencoba menelusuri semburat cahaya. 

Mari kita bergegas melangkah, cobalah untuk membuka pintu dan lihatlah begitu banyak hal yang dapat kita pelajari setelah cahaya mengenalkan kita akan keagungan-Nya. Aku yakin setelah itu, kita akan menyadari bahwa kekuasaan-Nya amat besar dan apalah kita tak ada apa-apanya, amat kecil mungkin lebih kecil dari atom. Ya Allah, dosa begitu membentang mengalahkan samudra. Namun kita terus merasakan nikmat-Nya. Tenggelam dalam penyesalan begitu dalam, amat dalam melebihi palung laut hingga air mata ikut bersuara. Kita pasti merasakan hal itu disaat dosa menggulung dan berdebur dalam pikiran. 

This is the journey of life, Hijrah merupakan tujuan hidup untuk mendapatkan cinta-Nya. Karena Allah mencintai orang-orang yang bertaubat, seperti dalam firman-Nya. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Albaqarah [2]: 222).  

Disaat kita melangkah untuk menjadi lebih baik ketahuilah banyak duri menancap dan melukai untuk menghentikan langkah. Meneriaki bahwa kita sangat hina dan tak pantas menjadi lebih baik. Aku yakin, tekad kita tak akan pernah luruh hanya karena kata tak bermakna dari orang yang tidak menyukai kita. Hiraukan dan tetap fokus untuk mendapatkan cinta-Nya. 

Imam Asy Safi'i berkata, "Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup perbaiki hubunganmu dengan Allah dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia." 

Hijrah memang tak mudah dan istiqomah itu berat. Jangan sendirian, kita gak akan kuat. Lebih baik bersama-sama. Hehe... Tapi memang support system dari sahabat-sahabat itu penting. Karena iman itu dinamis, naik-turun. Maka ketika iman kita sedang kritis sangat perlu asupan semangat dari sahabat fillah. Alhamdulillah Allah menghadiahkanku sahabat jannah, mereka yang menuntunku untuk terus belajar dan mengingatkan ketika aku mulai jauh dari-Nya. 

Aku sangat bersyukur memiliki sahabat yang lebih salihah dariku, mereka selalu menemaniku dalam kajian-kajian, tak pernah aku sangka dapat mendengar kajian dari ustadz yang aku kagumi, seperti ust. Abdul Somad, ust. Hanan Attaki, ust. Adi Hidayat,  dan ust. Muzzamil. 

Selain itu, sahabatku juga tak bosan mengingatkanku untuk mengikuti mentoring. Berbagi kisah akan kisah lampau ternyata kita memiliki perjalanan yang sama dalam perjuangan untuk hijrah, namun cara menjemputnya itulah yang berbeda. Hal yang aku ambil dari seseorang adalah orang tergerak untuk hijrah bisa dari siapa pun tak mesti dari orang yang salih dan sepatah kata yang tidak selalu terbungkus nasihat. MasyaAllah.


Ada perkataan yang membuatku tersentuh adalah terbesit dari lisan sahabatku, bahwa mereka tak hanya ingin bersahabat di dunia melainkan hingga jannah dan sambil memohon jika kelak salah satu sahabat yang masuk syurga agar mengajak sahabatnya yang pernah bersama-sama berada di jalan Allah. MasyaAllah Tabarakallah. Teman, mari kita cari sahabat yang selalu menemani hijrah kita, karena sahabat bisa menjadi syafaat ke Syurga-Nya kelak. 



Tapi bukan berarti sekarang aku telah menjadi sosok yang sempurna. Aku pun baru belajar  dan akan terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, memang tidak mudah tapi perlahan aku mencoba. Mungkin ini rencana Allah. Benar, yang menurutku baik belum tentu baik dimata Allah. Hijrahku ke kota kembanglah jalan yang Allah pilih agar aku dapat lebih memperbaiki diri yang ditemani sahabat-sahabat salihahku. Doakan kita selalu istiqomah di jalan-Nya agar kita menjadi wanita yang dirindukan Syurga. Aamiin.

Sekian, semoga kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT., untuk terus menabur manfaat dan kebaikan. Wassalamu'alaikum.







Sunday, February 17, 2019

The Power of Love From "Rumah Cinta"






Ahad, 17 Februari 2019 
dari Selasar Kota Kembang
Assalamu'alaikum...

Bismillah, 

            Sebenarnya aku cuma ingin membagikan kisah inspiratif dari seseorang yang begitu luar biasa hebatnya. Siapa ya mereka? Bukan dari sosok yang bergelar ataupun terkenal, tapi mereka adalah sosok yang lugu dan sederhana. Wah, jangan salah walau begitu mereka punya semangat yang menyala seperti mentari yang kedatangannya selalu ditunggu untuk menata hari.   
            Memang kala fajar baru saja menyingsing, aku sudah bergegas untuk mendatangi Rumah Cinta. Kamu tahu kah tempat itu? Awalnya aku masih sangat awam mendengarnya hingga aku diberi tahu bahwa Rumah Cinta adalah rumah singgah untuk anak kanker. mereka tinggal di sini untuk melakukan treatment di rumah sakit dekat rumah singgah ini. Aku sempat merasa tidak tega untuk menyapa mereka di sana, tapi... semoga kedatangan ini dapat sedikit melukis senyum di wajah polos mereka dan mematri semangat. 




              Mereka ternyata menyambut kedatangan ini dengan hangat, senang bisa melihat mereka. Tak kukira mereka masih sangat kecil untuk menanggungnya. Tapi lihatlah karunia dari-Nya, memang benar Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Betapa cerianya mereka seperti anak lain seusianya, aku pun harus menahan tetesan air mata yang hampir jatuh dari pelupuk mata melihat semangatnya yang tak pernah terkikis.



            Kedatanganku dan rekanku ingin mengajarkan mereka untuk berperilaku hidup sehat (PHBS), seperti cara mencuci tangan dan menyikat gigi dengan benar. Untuk anak seusia mereka sangat perlu sekali kita tanam edukasi agar tumbuh kesadaran untuk membiasakan hidup sehat. Memang tidak langsung, namun dengan mereka tahu dan paham mereka akan bertahap untuk melakukannya dan tentunya harus ada role model atau peran dari orang tua. Maka dari itu, selain anak-anak melibatkan orang tua sangat perlu.  :)   



       Mereka berlomba-lomba untuk belajar mencuci tangan. Senangnya dapat melihat senyum mereka! Ternyata aku salah, bukan aku yang dapat melukis senyum dan mematri semangat mereka. Tapi, justru mereka lah yang dapat menciptakan pelangi di hatiku dan dapat mengasah semangatku.  Tingkahnya menyentuh banget. Oh ya, ternyata salah satu penderita kanker ada yang daerah asalnya sama denganku. Jika tidak salah dia bernama Siti. Bagaimana kabarnya sekarang ya? Semoga dia sudah sembuh! Aamiin. 
            Kamu dapat melihat semangat belajar mereka? Mereka sangat antusias sekali, aku sempat bertanya mengenai cita-cita mereka. Kamu mau mendengar jawaban mereka? Ternyata ada yang bercita-cita menjadi guru, dokter, bahkan ustadzah. MasyaAllah. Aku malu sekali, dengan kesehatan yang Allah SWT., berikan untuku terkadang aku sering kali mengeluh, malas, dan kufur nikmat (tidak bersyukur). Menyia-nyiakan kesehatan dan waktu luang yang kumiliki, seharusnya aku pergunakan untuk melakukan hal yang bermanfaat. 
              You're Heroes! Di kala penyakit sedang bersemayam di tubuh mungilnya, mereka tak pernah merintih bahkan mengeluh walaupun kemoterapi membuat helai mahkota mereka mulai menipis. You're strong, Mungkin aku tak akan sekuat kalian!
          Di balik layar sosok yang kuat ada seseorang yang hebat, karena ketahui kekuatan akan tumbuh karena kasih sayang. Siapa kah orang hebat itu? Iya benar, kedua orang tua mereka adalah orang yang begitu hebat. Hatinya begitu lapang melihat seseorang yang begitu disayangnya sakit, pundaknya pun siap untuk memikul demi kesembuhan orang tercintanya. Seperti yang kuketahui langsung, keluarga kecil ini tak akan ada tanpa perjuangan dari Bapak Supendi Wijaya yang mendirikan Rumah Cinta. Kalian tahu alasannya? Beliau memang orang yang sangat baik. Ternyata karena pengalaman pribadinya, anak beliau pun rupanya dulu menderita kanker namun kini Allah SWT., sudah mendekapnya. Dari situlah, tumbuh keinginan untuk membantu meringankan para penderita kanker.


            Banyak sekali bukan hikmah yang dapat kita pelajari? Tak perlu kita mencari seseorang untuk memotivasi, Cukup kita pahami orang disekitar kita. Dari siapa pun kita dapat belajar, karena setiap orang memiliki pengalaman berbeda. Setiap orang terlahir memiliki kisah inspiratif yang tentunya dapat kita tiru. Semoga Allah cepat mengangkat penyakit yang menyiksa tubuh mungil kalian, cepat sembuh. Kanker tidaklah meluruhkan senyum dan semangatnya. Mereka sama halnya dengan anak yang lain berhak bermain dan belajar walau tengah berjuang melawan kanker. They are cancer fighters.
           Semoga Allah SWT., memberikan kesehatan agar tulisanku terus merangkai cerita dari orang-orang menginspirasi lainnya. Tak akan menjadi suatu cerita tanpa mereka yang menginspirasi. Dari mereka, si mungil yang kuat! Sampai jumpa. Wassalamu'alaikum.

Bandung, 12 November 2017.






BERBAGI ADALAH KEBAHAGIAAN UNTUK SEMUA

Senin, 17 Februari 2014 Bismillah, Kebahagiaan itu adalah buah dari kerja keras. Tidak ada keberhasilan yang berbuah kebahagiaan tanpa ...