Bismillah,
Ahad, 21 April 2019
Assalamu'alaikum
Di malam senin ini aku sengaja menyempatkan kembali menulis di tengah kesibukan PBL karena lokasi PBL mengingatkan peristiwa lampau yang kurasa dapat menjadi bahan untuk mawas diri, tidak terasa ya sebentar lagi kita akan menyambut bulan suci ramadhan. Target apa yang akan kamu capai di bulan ramadhan tahun ini? Wah, hamasah! Semoga Allah selalu menjaga kesehatan kita ya agar dapat menjalankan ibadah dengan baik. Aamiin.
Kepo nih, puasa nanti kalian sedang LDR dengan orang tua kah? Semangat ya untuk anak rantau yang tengah berjuang di kota orang. Semoga lelahmu lillah dan berkah. Untuk kamu yang bersama keluarga jangan sia-siakan waktu kebersamaan itu ya, karena jika waktu telah menelan apa yang dilaluinya maka tidak ada yang dapat mengembalikan kebersamaan, yang ada hanya penyesalan dan kerinduan akan kenangan bersama mereka.
Oke, lanjut ke cerita ya. Sekitar 2 tahun yang lalu, aku masih semester 2 dan sibuk dengan tugas epidemiologi. Saat itu aku dan salah satu teman kelompokku ke puskesmas untuk bimbingan dengan dokter. Keadaan di puskesmas penuh sesak dengan pasien, belum sampai di dalam aku melihat seorang laki-laki yang telah renta bertubuh berisi dan tinggi berjalan tertatih-tatih, tangannya gemetar memegang dinding dan orang yang di sekitar bahkan didekatnya hanya memandangi. Dari jauh aku tentu sudah sangat iba melihatnya :(
Orang dilaluinya tapi sorot mata kakek itu tajam ke arahku dan berjalan mendekati, aku pun memperhatikan dan mendekatinya. Terdengar lirih suara dari kakek itu saat berpapasan denganku. Rupanya beliau mencari toilet. Aku terus bergumam dalam hati, begitu tega meninggalkan orang tua yang usianya sudah senja sendirian dengan kondisi yang kurang sehat. Aku sempat bertanya-tanya dalam hati, kemana kah keluarganya? begitu tega anak/keluarganya. Pikirku saat itu. Aku menoleh ke temanku yang berada di belakang dan dia paham maksudku. Alhamdulillah temanku tau letak toilet. Sebab aku baru kali pertama ke puskesmas ini.
Kakek ini sudah sulit berjalan, aku pun menggandengnya karena memang tak ada tumpuan untuk dipegang. temanku mengikuti di sebalahku. Ketika berjalan tubuhku sempat tidak seimbang karena tanganku menopang tubuh kakek tersebut yang lumayan berisi. Iya, aku hampir terjatuh. Disini aku mengartikan bahwa kakek itu sudah sulit berjalan. Aku mulai suudzon lagi, kenapa keluarganya tidak memberikan tongkat untuk kakek ini? tega banget! Apa kakek ini sebatang kara? Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Saat itulah orang-orang memperhatikan aku dan temanku sambil bertanya pada kakek ini. Sedih memang ya, kepedulian kita dengan orang sekitar mulai terkikis :(
Sampai di toilet, aku sempat khawatir kakek itu kenapa-kenapa. Tapi insyaAllah engga. Ketika kakek itu masuk, aku langsung mengeluarkan isi hati pada temanku yang ada di sebelahku.
"KASIAN, SUMPAH! Jadi inget orang tua di rumah." Ucapku saat itu tiba-tiba seperti ada bawang bikin mata berkaca-kaca;(
"Iya gak tega, jadi inget kakek aku." Balas temanku.
"KELUARGANYA KEMANA YA?"
"IYA IH KOK TEGA YA?"
Tak lama kakek itu keluar dengan ekspresi senang. Dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Aku jadi terharu. Kakek itu memegang lenganku dan aku pun menuntunnya menuju ruang tunggu. Di sepanjang jalan kakek itu sudah mengajak berbincang, karena rasa penasaran aku langsung bertanya.
"Kakek ke sini sendiri?" Tanyaku.
"Tadi ke sini sama anak, tapi anak bapak pergi lagi."
Astagfirullah, dari kata tersebut aku merasa kesal, tapi kakek itu menyambungkan perkataannya kembali.
"Tadinya mau nungguin tapi bapak tau anak bapak jam 09.00 ada rapat. Jadi bapak menyuruh pergi, takut telat rapatnya. Biarin bapak di sini sendiri daripada anak bapak telat."
MasyaAllah dari perkataan inilah hati sangat tersentuh, terenyuh mendengarnya. Kasih sayang orang tua memang tanpa batas. Selalu memikirkan anaknya walau kondisinya yang seharusnya perlu diperhatikan oleh anaknya. Sering kali kita sebagai anak selalu mementingkan diri sendiri, sering kita tidak ingin merelakan sesuatu demi orang tua. Aku saat itu benar-benar tertampar, dengan perkataan tadi. Aku mengartikan bahwa mungkin aku pun telah melakukan hal seperti ini, bahkan lebih dari ini karena anak rantau pasti di saat orang tua sakit, aku tak ada di samping untuk merawat. Mungkin di balik kabar yang kudapat baik-baik saja, justru ada sesuatu yang disembunyikan oleh orang tua demi anaknya karena mereka tidak ingin membuat anaknya khawatir ;(
Kamu tau ada hal yang diucapkan lagi oleh kakek itu. "Kalo istri bapak lagi jagain cucu."
YAA ALLAH, benar kasih sayang kedua orang tua tak terbatas. Lantas kapan kita bisa membahagiakan beliau tanpa membebani lagi seperti kita masih kecil?
Dari kisah yang aku sampaikan tak ada maksud apa-apa, hanya saja dari kisah ini semoga kita dapat mengerti arti kasih sayang orang tua yang amat dalam. Tentunya kita dapat lebih sayang dan menghormati mereka yang telah menjadikan kita seperti sekarang. MasyaAllah.
Jangan sampai ketika kita amat memperhatikan orang lain dan berusaha ingin menjadi orang bermanfaat untuk orang lain hingga lupa tujuan awal untuk membahagiakan orang tua. Jangan lupa sempatkan pulang, karena kebahagiaan mereka bukan seberapa besar kamu memberikan materi, tetapi seberapa besar kita menyayangi dan memberi perhatian langsung pada beliau. Melihat anaknya datang ke rumah adalah suatu kebahagiaannya walau sering kali ulah kita membuat mereka kesal. Sempatkanlah pulang, mereka sangat merindukan.